Swaranews.com - Pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ternyata juga berimbas pada nasib guru ngaji atau Taman Pendidikan Al Qur'an. Hal ini diungkapkan oleh H.R. Ardhi Yudistira yang berharap agar pemerintah daerah juga memperhatikan keberlangsungan hidup guru ngaji yang ikut terdampak covid - 19.
"Guru tngaji tokoh yang berperan penting dalam pendidikan anak. Utamanya dalam keagamaan, khususnya pada baca tulis Al Qur'an," ujarnya, Senin (4/5/2020).
Baca Juga: Pemkot Surabaya Perkuat Efisiensi Anggaran dan Inovasi Digital
Pria yang akrab disapa Gus Ardhi ini menyebutkan bahwa para Guru ngaji meluangkan waktu untuk mengajar. Biasanya di masjid mushola bahkan ada yang rela datang privat ke rumah rumah.
"Mereka juga tidak ada gaji tetap, mengandalkan iuran dari warga untuk pemasukan," sebut tokoh muda yang aktif di PW GP Ansor Jawa Timur itu.
Baca Juga: Fasad Toko Nam Embong Malang Ternyata Replika Kini Resmi Dibongkar
Menurut Pria 38 tahun itu situasi pandemi corona saat ini. Mengharuskan kegiatan mengaji atau TPA juga libur. Otomatis pemasukan mereka juga bisa jadi ikut kosong. Hal ini berbeda dengan guru yang berstatus Pegawai Negeri. Para PNS masih mendapat gaji bulanan. Paling tidak mereka masih bisa bertahan dengan gaji yang ada.
"Karena itulah, kami berharap pemerintah daerah juga memberikan perhatian khusus kepada para guru ngaji atau TPA. Mereka juga termasuk tokoh yang berperan penting dalam pendidikan. Utamanya dalam pendidikan non formal," tegas Gus Ardhy.
Baca Juga: Surabaya Genjot Literasi Statistik Lewat Kelurahan Cantik 2026
Dirinya menambahkan bahwa tidak sedikit para tokoh dan pejabat yang kini berhasil juga karena adanya peran guru ngaji di desa atau kampung-kampung.
"Guru ngaji berjasa besar, karena itu perlu diperhatikan saat situasi sulit saat ini," pungkas Gus Ardhi.(mar)
Editor : redaksi